IMAJINASI DAN PENDIDIKAN

PENTINGNYA IMAJINASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

 

Intisari

Imagination is more important than knowledge”

~Albert Eintein~

Imajinasi adalah kekayaan yang dimiliki oleh setiap orang. Dengan imajinasinya, manusia dapat memahami “dunia” dan keadaanya dengan lebih baik. Melalui imajinasi, manusia mampu menghubungkan antara apa yang ia bayangkan dalam pikiran dan berbagai mancam pertanyaan serta soal-soal kehidupan yang terpecahkan menjadi realitas yang bisa dipahami dan di megerti. Melalui imajinasi pula, lahirlah hal-hal baru dalam hidup manusia. Berbagai macam inovasi dan temuan yang terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan pun terjadi. Saat ini, dalam dunia pendidikan, imajinasi telah menjadi komponen yang sangat penting sebagai sarana untuk mengembangkan pendidikan yang berkualitas. Model-model pendidikan imajinatif dan kreatif pun mendapat tempat yang istimewa. Semua itu memiliki satu tujuan yang sama, yaitu guna mengusahakan bentuk pendidikan yang maksimal bagi para peserta didik. Sebagai sebuah model pendidikan, model pendidikan imajinatif dan kreatif pun memiliki banyak tantangan dalam mewujudkannya.

 

1. Pengantar

Siapakah yang tidak pernah berimajinasi dalam hidupnya? Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan[1]sesuatu dalam proses penalaran manusia. Kendati agak sulit didefinisikan dan digambarkan, imajinasi adalah sesuatu yang nyata dan selalu dilakukan oleh manusia. Imajinasi bukanlah suatu cara berpikir tunggal yang dimiliki oleh manusia. Justru di dalam imajinasi itulah manusia memiliki kekayaan dalam cara berpikirnya.[2]Kekayaan dalam imajinasi ini memiliki peran yang berharga dalam proses pendidikan bagi manusia. Pendidikan sendiri berasal dari kata didik yang didefinisikan oleh Kamus Bahasa Indonesia sebagai proses untuk memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.[3]Sementara itu, kecerdasan berpikir bukanlah suatu bentuk pemikiran yang baku dan kaku. Di dalam kecerdasan berpikir itu dibutuhkan kemampuan-kemampuan yang melampaui batas pemikiran normal. Kemampuan itu bisa terjadi dengan memberikan ruang yang luas pada imajinasi. Daya imajinasi membantu seseorang untuk berpikir melebihi batas-batas pemikiran yang ada.[4]Kendati demikian, imajinasi selalu memiliki hubungan dengan dunia nyata dan kejadian-kejadian fisik yang dialami oleh manusia dengan kompleksitas realitanya.

Makalah singkat ini akan mengungkapkan tiga hal yang saling terkait yaitu; Pertama, korelasi antara imajinasi dengan dunia nyata. Bagian ini, secara ringkas mengungkapkan tentang usaha yang dilakukan oleh manusia dalam menggunakan imajinasinya untuk mengkonstruksikan kehidupan yang nyata. Kedua, imajinasi merupakah sarana yang menjadi latar belakang terjadinya inovasi  hal-hal baru bagi sejarah perkembangan manusia dan bagaimana hal tersebut dihayati. Ketiga, imajinasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari model pendidikan kreatif perlu sungguh-sungguh diperhitungkan peranannya.

2. Antara Imajinasi dan Dunia Nyata

Bagi masyarakat Yunani kuno, imajinasi memiliki peran sentral dalam rangkaian mitologi yang mereka miliki. Mitologi yang mereka ciptakan adalah jawaban dari berbagai persoalan yang mereka alami setiap hari. Melalui hal yang sama, mereka berusaha menjawab tentang asal-usul dunia dan fenomena-fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Mitologi adalah penjelasan rasional yang menghubungkan antara berbagai macam pertanyaan yang muncul dengan realita yang ada. Dalam arti tertentu, imajinasi yang telah terwujud dalam mitos adalah “perahu” yang menghubungkan antara pertanyaan-pertanyaan manusia dengan realita yang ada.[5] Kendati belum tentu benar, imajinasi yang berupa mitos menjadi jawaban yang melegakan bagi manusia. Uniknya, mitologi ini selalu berkembang dari waktu ke waktu. Hal tersebut dapat diamati dari perkembangan karya-karya seni dan sastra yang mereka miliki. Secara tidak langsung, hal tersebut menunjukkan bahwa mitologi Yunani sendiri juga mengalami perkembangan dan perubahan. Tentunya, hal tersebut dipengaruhi langsung oleh perkembangan imajinasi masyarakat Yunani yang juga terus berubah dan berkembang.

Bagi kita, manusia jaman ini, imajinasi tetap memiliki peran yang sentral. Albert Einsten bahkan mengatakan bahwa “imagination is more important than knowledge[6]Kutipan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengabaikan pengetahuan tetapi hendak memberikan argumen bahwa imajinasi justru memiliki peran sentral dalam mengembangkan tingkat kecerdasan manusia. Imajinasi adalah kunci berkembangnya ilmu pengetahuan. Tanpa adanya imajinasi, manusia tidak akan pernah berpikir untuk bisa mencapai bulan, menciptakan pesawat terbang dan lain sebagainya.[7]

Dalam konteks dunia pendidikan, imajinasi memiliki peran yang penting sebagai salah satu komponen dalam pengembangan suatu proses pendidikan. Dalam tahap tertentu, imajinasi melatarbelakangi lahirnya metode pendidikan dalam hal pengajaran dan pembelajaran. Imajinasi bahkan mempunyai andil dalam lahirnya metode-metode pendidikan yang melampaui batasan-batasan yang sudah ada.[8]Dengan pengembangan imajinasi di dalam dunia pendidikan, terjadilah sebuah proses pendidikan yang berkelanjutan dan selalu baru. Kurikulum pendidikan adalah salah satu wujud dari lahirnya imajinasi dalam dunia pendidikan. Ketika suatu bentuk kurikulum harus diperbaharui dan diganti, hal tersebut secara tidak langsung menjadi penanda bahwa imajinasi dalam dunia pendidikan telah muncul kembali.

 

3. Imajinasi sebagai “Jembatan”

Apa yang penting dalam suatu proses imajinasi bukanlah isi dari imajinasinya itu sendiri tetapi lebih pada bagaimana mewujudnyatakan imajinasi tersebut. Berimajinasi juga memiliki arti sebagai usaha untuk berinovasi, menemukan, mencari, bahkan mengambil resiko untuk melakukan sesuatu yang baru dan bahkan mungkin sebelumnya dibayangkan tidak mungkin.[9] Melalui imajinasi itulah kita membangun “jembatan” antara yang imajinatif  dengan yang realistis. Tanpa adanya usaha menghubungkan antara yang imajinatif dengan yang nyata, proses imajinasi hanya akan menjadi sebuah proses yang fiktif.

Proses untuk menghubungkan antara yang imajinatif dengan yang nyata bisa melahirkan kreativitas. Kreativitas adalah sebuah proses daya cipta untuk menghasilkan sesuatu yang baru entah itu melalui pewujudan imajinasi tertentu atau pun berdasar realitas konkrit yang ada. Dengan kata lain, imajinasi bisa menjadi “roh” yang melatarbelakangi lahirnya inovasi, penemuan dan sesuatu yang baru berdasarkan apa yang diimajinasikan dan dialami secara konkrit.

Salah satu contoh pengalaman konkrit lahirnya inovasi yang didasarkan pada proses imajinasi dan kreativitas terjadi dalam sejarah Serikat Jesus.[10] Pada awalnya, walaupun semua sahabat-sahabat awal St. Ignatius Loyola[11] adalah para sarjana dari Universitas Paris, sasaran awal didirikannya Serikat Jesus tidak meliputi rencana pendirian lembaga-lembaga pendidikan. Menurut Formula Instituti yang diajukan pada 3 September 1539 kepada Paus Paulus III untuk disahkan, Serikat Jesus didirikan “guna berusaha secara khusus bagi pembelaan iman, penyebaran iman, dan kemajuan jiwa-jiwa dalam kehidupan dan ajaran Kristen, dengan kotbah, kuliah, dan pelayanan Sabda Allah dalam bentuk apa pun, Latihan Rohani, pendidikan anak-anak dan orang tua buta huruf dalam agama Kristen, serta penghiburan bagi umat beriman dengan pelayanan Sakramen Tobat dan sakramen-sakramen lainnya.” Ignatius menghendaki para Jesuit dapat dengan bebas berpindah-pindah tempat ke mana saja dialami kebutuhan yang paling mendesak. Ia justru meyakini bahwa lembaga-lembaga tetap akan mengikat dan menghalang-halangi mobilitas. Untuk itu, para Jesuit pun akan menerima sarana apa pun yang paling baik guna melaksanakan kasih dan pengabdian Allah melalui pelayanan sesama.

Seiring berjalannya waktu, bentuk pelayanan yang diberikan oleh Serikat Jesus tidaklah memadai. Ignatius dan teman-temannya merasakan perlunya melangkah lebih jauh dalam pelayanan mereka dengan mendirikan bentuk-bentuk lembaga pendidikan. Dari praktek-praktek pengajaran yang diberikan oleh para anggota serikat waktu itu memperlihatkan hasil yang baik dan menggembirakan. Apalagi, para Jesuit menyadari bahwa mereka harus memberikan pendidikan yang benar bagi kaum muda gereja katolik yang pada saat bersamaan menghadapi gerakan reformasi dan pandangan-pandangan reformis yang berbeda, bahkan berlawanan.

Keyakinan terhadap pentingya pendirian lembaga pendidikan semakin kuat ketika pada tahun 1542, St. Fransiskus Xaverius menulis surat dari Goa, India, yang berisikan tentang pengajaran dan pewartaan yang dilakukannya di India. Pentignya pengajaran dan pewartaan inilah yang kemudian ditangkap oleh Serikat Jesus sebagai bentuk inovasi yang perlu segera diwujudkan. Sementara itu pada tahun yang sama, di Italia, didirikanlah Kolese[12]Padua.[13] Dua tahun kemudian, didirikan pula sebuah Kolese Messina, suatu sekolah Jesuit pertama sebagai lembaga yang dimaksudkan bagi kaum remaja awam. Pada 1550, didirikan pula sebuah Kolese di Venetia. Singkatnya, ketika melihat kenyataan bahwa pendidikan bukan hanya penting sebagai sarana bagi perkembangan manusiawi dan iman yang diserang oleh gerakan Reformasi Protestan, jumlah Kolese-Kolese Jesuit pun mulai bertambah dengan pesat.[14]

Tentunya kita lalu bertanya, apakah ada kaitan langsung antara inovasi yang dilakukan oleh Ignatius dan kawan-kawannya dalam mengembangkan lembaga pendidikan dengan proses imajinatif dan kreativitas yang muncul atas dasar keprihatinan terhadap keadaan jaman saat itu? Jawaban atas pertanyaan ini bisa kita temukan dengan medalami dinamika Latihan Rohani (LR) St. Ignatius dan cara bertindak para Jesuit. LR memberikan ruang yang sangat luas bagi para Jesuit dan siapa saja yang tertarik untuk melakukan latihan rohani. Di dalam LR, setiap orang diajak untuk mampu berkontemplasi atau membayangkan tetang tema-tema atau pokok-pokok doa tertentu sebagai bagian dari LR. Selain itu, mereka juga selalu diajak untuk melakukan langkah-langkah persiapan LR, salah satunya adalah melakukan compositio locci.[15] Ringkasnya, siapa saja yang menjalankan LR, nantinya akan diajak untuk bisa ber-contemplativus in actione (berkontemplasi di dalam aksi) Dalam arti lain, tindakan tersebut adalah tindakan yang tidak pernah bisa dipisahkan dari proses imajinasi.

Pilihan para Jesuit untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan adalah pilihan yang didasarkan atas kontemplasi-kontemplasi di dalam LR (sebagai bagian dari dinamika hidup para Jesuit) dan ditatapkan dengan kenyataan konkrit yang mereka alami pada saat itu—krisis iman dan reformasi protestantisme. Dalam arti tertentu, pilihan yang mereka buat adalah “jembatan” yang menghubungkan antara dunia imajinasi (melalui kontemplasi-kontemplasi) dan dunia nyata (tempat di mana para Jesuit hidup dan melakukan pelayanan).

 

4. Tantangan Model Pendidikan Imajinatif

Pentingnya imajinasi sebagai bagian dari proses pendidikan tidak perlu diragukan lagi. Saat ini, di dunia pendidikan, telah muncul banyak kelompok-kelompok pemerhati pendidikan yang mendiskusikan dan saling memberi masukan tentang pentingyaperanan imajinasi. Sebagai contoh, sejak tahun 2003, lahirlah sebuah kelompok para pemerhati pendidikan yang tergabung dalam sebuah konferensiinternasional yang terkait dengan pendidikan dan imajinasi. Konferensi ini lahir dari sebuah keprihatinan untuk mengusahakan proses belajar dan mengajar yang efektif disaat menghadapi berbagai macam sikap dan perilaku peserta didik, padatnya aneka kurikulum dan kompleksnya tingkatan status di dalam masyarakat saat ini. Proses pemikiran yang imajinatif dan kreatif menjadi jalan pembuka bagi proses belajar dan pengajaran tersebut. Konferensi yang sama  menyarankan agar “We need to think about thinking and learning in much more imaginative ways”.[16]Di tahun 2008, konferensi ini dihadiri oleh 140 delegasi yang berasal dari 20 negara. Dalan arti tertentu, konferensi ini menjadi penanda bahwa bentuk pendidikan imajinatif telah menjadi perhatian yang masyarakat internasional. Pentingya kebutuhan untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi para peserta didik adalah alasan utama dari munculnya perhatian dan gerakan ini.[17]

Cita-cita yang ingin dicapai oleh konferensi tentang imajinasi dan pendidikan adalah sebuah model pendidikan yang kreatif. Pertanyaanya, bagaimana hal tersebut dapat dicapai? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat lebih dulu apa saja faktor penentu dari sebuah model pendidikan. Dalam laporanya tentang Guru dan Kwalitas Pendidikan: Monitoring Kebutuhan Global 2015, UNESCO (United Nation, Educational Scientific and Cultural Organization) mengungkapkan tentang kekurangan yang sangat besar jumlah para guru untuk pendidikan dasar di negara-negara berkembang. Laporan yang sama juga menunjukkan gap yang sangat besar antara kebutuhan dan kualitas para guru dari negara-negara maju dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Kebutuhan besar akan pentingnya tenaga-tenaga guru bisa ditemukan di negara-negara Afrika dan beberapa negara di Asia. Sementara itu, kebutuhan yang berbanding terbalik terjadi di beberapa negara Eropa dan China di mana jumlah peserta didik mengalami penurunan.[18]Kiranya, faktor kebutuhan jumlah guru ini menjadi faktor yang sangat penting bagi sebuah proses pendidikan. Tanpa adanya kuwalitas dan kwantitas guru yang memadai, tidak akan terjadi proses pendidikan yang maksimal. Jika persoalan ini lalu ditatapkan dengan model pendidikan yang imajinatif dan kreatif sebagaimana telah kita sebutkan di atas, seberapa besar pengaruhnya terhadap cita-cita pendidikan yang imajinatif dan kreatif tersebut?

Berhadapan dengan kebutuhan global, model pendidikan imajinatif dan kreatif akan menghadapi tantangan yang besar. Pertama, seringkali model pendidikan imajinatif dan kreatif membutuhkan perhatian dan tenaga yang lebih dalam mewujudkannya. Kedua, seringkali pula, model pendidikan yang kreatif juga membutuhkan sarana-sarana yang tidak serta merta mudah diperoleh. Kekurangan tenaga dan sarana inilah tantangan terbesar bagi terbentuknya sebuah model pendidikan imajinatif dan kreatif dalam skala global. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa model pendidikan imajinatif dan kreatif sama sekali tidak bisa diwujudkan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kita perlu berani untuk membatasi diri dan fokus pada luas cakupan bidang pendidikan yang menjadi tanggungjawab kita.

Seorang pendidik perlu menyadari batasan-batasan kemampuan yang ia miliki tetapi juga perlu mengetahui cara-cara kreatif yang bisa ia gunakan untuk melampaui batasan-batasan yang ia miliki tersebut. Susan Guerrero dalam bukunya yang berjudul 42 Rules: For Elemetery School Teacher(2009), men-sharing-kan tentang bagaimana ia sebagai seorang guru berusaha dengan keras untuk menjadi seorang guru yang baik dengan melihat latar belakang pendidikan yang pernah ia alami. Ia belajar dari pengalaman para guru yang pernah mendidiknya—yang menurutnya adalah guru-guru terbaik. Baginya, seorang guru yang baik adalah seorang guru yang mampu “mengubah” hidup para muridnya menjadi lebih baik. Seorang guru yang luar biasa adalah guru yang mau bekerja keras untuk menjadikan suasana belajar menarik, relevan, menyenangkan, dan dapat dimengerti.[19]

Atas dasar pengalaman hidupnya, Susan pun menuliskan sebuah buku yang berisi tentang 42 aturan untuk para guru sekolah dasar. Ia berharap, aturan-aturan yang ia sebutkan bisa menjadi cara-cara kreatif yang memperkaya daya imajinatif para guru lain yang membacanya. Dalam salah satu aturanya, buku ini menawarkan tentang pandangan agar kita jangan takut ketika harus mengalami kegagalan. Rasa takut gagal justru menghabiskan banyak energi dan waktu ketika hal tersebut kita alami. Solusinya, kita perlu bersikap berani mengalaminya jika memang hal itu harus terjadi.[20] Keberanian untuk mengalami kegagalan justru bisa membebaskan kita. Ringkasnya, buku ini menarik dibaca oleh para pendidik sebagai refrensi untuk mengembangkan proses pendidikan yang kreatif dan imajinatif.

5. Pentingnya Imajinasi Dalam Dunia Pendidikan

Pengetahuan adalah hasil dari harapan, kecemasan dan semangat welas asih manusia yang dicapai dengan menggunakan imajinasi sebagai “alatnya”.[21] Masyarakat Yunani kuno telah membuktikan bahwa imajinasi memiliki peran penting sebagai sarana untuk memecahkan teka-teki kehidupan yang mereka miliki. Melalui mitos dan dongeng mereka memperoleh pengetahuan atas apa yang terjadi dengan “dunia” di sekitar mereka.

Pentingnya imajinasi juga dirasakan ketika sebuah metode pendidikan tidak lagi memadai sebagai sarana untuk menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik. Pembaharuan-pembaharuan dalam bidang pendidikan pun perlu terus dilakukan. Persis pada saat inilah, imajinasi kembali menunjukkan peran pentingnya. Imajinasi tidak hanya sebagai alat untuk mencapai masa depan yang ideal dan lebih baik, tetapi juga mengantar kita untuk menjawab persoalan-persoalan konkrit yang ada.

Dalam arti tertentu, imajinasi memiliki korelasi dengan kreativitas pada diri manusia. Dengan imajinasi itu lahirlah berbagai macam inovasi dalam kehidupan manusia, ditemukannya berbagai macam sarana yang mendukung kebutuhan hidup manusia, bahkan keberanian untuk menghadapi berbagai resiko dalam kehidupan. Sejarah telah membuktikan bahwa imajinasi telah menjadi jembatan yang menghubungkan antara apa yang ideal dengan apa yang nyata dan dihdapai sehari-hari oleh manusia. Apa yang dilakukan oleh para Jesuit dengan mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan dan mengelolanya dengan baik adalah contoh kecil dari adanya korealasi antara imajinasi dengan kreativitas atas dasar keadaan konkrit yang ada. Hasil positif yang mereka capai pun patut untuk diapresiasi.

Disadari atau pun tidak, kebutuhan terhadap model pendidikan yang imajinatif dan kreatif telah menjadi kebutuhan bersama yang mendesak. Model pendidikan semacam ini memungkinkan terjadi pembaharuan terus menerus terhadap sistem dan kurikulum pendidikan yang kadang cenderung kaku. Hal yang sama juga bisa menjadi jawaban atas krisis dalam bidang pendidikan berupa minimnya kwantitas dan kualitas para guru di banyak negara. Dengan berbekal pemikiran yang imajinatif dan kreatif kita bisa berharap adanya jalan keluar bagi tantangan di dunia pendidikan jaman ini.

 

Daftar Pustaka

Blenkisop, Sean. 2009. The Imagination in Education. Newcastle: Combridge Scholar Publishing.

Dalmases, Cándido de. 2009. Ignatius Loyola Pendiri Serikat Jesus:Riwayat Hidup dan Karyanya, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

 

Fitzgerald, Robert dan Nielsen, Thomas W. (Ed). 2008. Imaginative Practice, Imaginative Inquiry: Proceedings of the Sixth International Conference on Imagination and Education. Australia: University of Canberra.

 

Guerrero, Susan. 2009. 42 Rules: For Elemetery School Teacher. California: Super Star Press.

 

Jone, Roy dkk. 2008. Education and Imagination: Post-Jungian Perspectives. New York: Routledge.

 

Pusat Bahasa Depdiknas. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

 

Serikat Jesus Provinsi Indonesia.1987. Ciri-ciri Khas Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Yesuit. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

UNESCO. 2006. Teachers and Educational Quality: Monitoring Global Needs For 2015. Canada: UNESCO Institute for Statistic.

Bag, Hausyen (ed) “Eurasian: Jurnal of Mathematics, Science and Techology Education”,http://ejmste.com/v3n3/EJMSTE_v3n3.pdf#page=81, diakses pada tanggal 2 September 2013

 

Alpen, Peter van, “Imagination as a Transformative tool in Primary School Education”, http://rosejourn.com/index.php/rose/article/viewFile/71/99, diakses pada tanggal 1 Oktober, 2013

Nn, “Pentingya Dongeng dan Imajinasi”, http://semipalar.sch.id/?p=1208, diakses pada tanggal 21 September 2013


[1] Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2008), hlm.546.

[2] Sean Blenkisop, The Imagination in Education, (Newcastle: Combridge  Scholar Publishing, 2009), hlm. ix

[3] Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia, hlm.352

[4] Peter van Alpen, “Imagination as a Transformative tool in Primary School Education”, diunduh dari http://rosejourn.com/index.php/rose/article/viewFile/71/99, diakses pada tanggal 1 Oktober, 2013.

[5] Lihat pemikiran yang kurang lebih sama, mitos dalam dunia modern, Roy Jone dkk, Education and Imagination: Post-Jungian Perspectives, (New York: Routledge, 2008), hlm. 67.

[6] Imaginasi lebih penting dibandingkan dengan pengetahuan.

[7] Nn, “Pentingya Dongeng dan Imajinasi”, diunduh dari http://semipalar.sch.id/?p=1208, diakses pada tanggal 21 September 2013. Lihat juga Hausyen Bag (ed) “Eurasian: Jurnal of Mathematics, Science and Techology Education” diunduh dari http://ejmste.com/v3n3/EJMSTE_v3n3.pdf#page=81, pada tanggal 2 Oktober  2013.

[8] Lihat Peter van Alpen, “Imagination as a Transformative tool in Primary School Education”, diunduh dari http://rosejourn.com/index.php/rose/article/viewFile/71/99, diakses pada tanggal 1 Oktober, 2013.

[9] Sean Blenkisop, The Imagination in Education, hlm. 4-5

[10] Serikat Jesus adalah salah satu ordo atau kelompok religius di dalam Gereja Katolik yang salah satu bentuk  pelayanannya diiberikan dalam bidang pendidikan, entah itu kepada umat katolik sendiri atau pun kepada masyarakat luas.

[11]St. Ignatius Loyola adalah salah satu Jesuit (sebutan lain dari anggota Serikat Jesus) pendiri Serikat Jesus.

[12] Sejak tahun 1540 dan seterusnya, kata “Kolese” dalam dokumen-dokumen Serikat Jesus dibedakan empat macam. Pertama, Kolese adalah rumah atau tempat tinggal mahasiswa Jesuit (scholastici), sedangkan mereka mengikuti kuliah di Universitas atau pusat-pusat kota lainnya, misalnya di Paris pada 1540 atau di Padua pada 1542. Kedua, kata yang sama menunjuk hanya dalam konteks ketika kuliah-kuliah mahasiswa Jesuit hanya diberikan kepada mahasiswa Jesuit dan yang ketiga ketika mahasiswa luar pun diterima di antara Jesuit-Jesuit ini. Keempat, kata yang sama menunjuk pada jumlah mahasiswa awam yang melebihi jumlah skolastik Jesuit, namun beberapa di antaranya biasanya terdapat di antara mahasiswa luar ini, misalnya di Messina pada 1548. Oleh karena itu, terdapat peralihan bertahap dari Kolese yang melulu diperuntukkan bagi para Jesuit ke Kolese yang dimaksudkan bagi mahasiswa luar. Hal yang sama terjadi di Kolese Goa, Gandia, dan Messina. Dalam Monumenta Paedagogica Societas Iesu, I (1540-1556), ed. L. Lukacs (Rome, 1965):6-8; George E. Ganss, Saint Ignatius’ Idea of a Jesuit University (Milwaukee, 1956), hlm. 22-23, seperti yang dikutip dalam Cándido de Dalmases, Ignatius Loyola Pendiri Serikat Jesus: Riwayat Hidup dan Karyanya, (diterjemahkan oleh Willie Koen), Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2009, hlm. 206-207.

[13] Dalmases, Ignatius Loyola Pendiri Serikat Jesus, hlm. 212.

[14] Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Ciri-ciri Khas Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Yesuit (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987), hlm. 68-69.

[15]Compositio locci berarti membayangkan tempat dan tokoh-tokoh dengan apa dan siapa kita akan melakukan latihan rohani. Lihat Latihan Rohani dalam versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan dan diberi pengantar oleh J Darminta, SJ; Ignatius Loyola, Latihan Rohani, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993), hlm. 127.

[16]Kita perlu berpikir tentang bagaimana belajar dan berpikir dengan cara-cara yang imajinatif.

[17]Lihat dalam Robert Fitzgerald dan Thomas W. Nielsen (Ed), Imaginative Practice, Imaginative Inquiry: Proceedings of the Sixth International Conference on Imagination and Education, (Australia: University of Canberra, 2008).

[18] UNESCO, Teachers and Educational Quality: Monitoring Global Needs For 2015, (Canada: UNESCO Institute for Statistic, 2006), hlm. 3-4.

[19]Susan Guerrero, 42 Rules: For Elemetery School Teacher, (California: Super Star Press, 2009), hlm. 1

[20] Ibid, hlm. 42

[21]Hausyen Bag (ed) “Eurasian: Jurnal of Mathematics, Science and Techology Education” diunduh dari http://ejmste.com/v3n3/EJMSTE_v3n3.pdf#page=81, pada tanggal 2 September 2013.

 

Advertisements

“SUSU SAYA SUSU BENDERA”

Image

 

                  Anak-anak TK menikmati lezatnya rasa susu Bendera

 

Pada tahun 2004 terpasanglah satu-satunya televisi (TV) di desa Waghete, yaitu di Pastoran Paroki St. Yohanes Pemandi. Televisi tersebut terpasang dan bisa dinikmati siarannya berkat usaha Br. Norbert, SJ. Dengan menggunakan solar cell, aki dan inverter, TV yang menggunakan antena parabola dapat menyiarkan beberapa stasiun TV. TV sebagai “barang” baru di Waghete mengundang banyak perhatian umat dan masyarakat desa. Maka, tidak mengherankan ada banyak orang yang berdatangan dan berkumpul untuk menonton siaran TV di Pastoran Waghete, termasuk anak-anak.

Ada satu peristiwa menyentuh yang terjadi pada saat itu dan diceritakan oleh Br. Norbert, SJ kepada saya, yaitu ketika anak-anak usia TK menonton iklan susu bendera. Karena anak-anak memang suka bernyanyi, mereka pun dapat dengan mudah menirukan nyanyian di dalam iklan itu. Kalau tidak salah, salah satu penggalan lagu di dalam iklan itu adalah “…susu saya susu bendera…”. Mendengarkan anak-anak yang menyanyikan penggalan lagu dari iklan itu, Br. Norbert, SJ meneteskan air mata. Hatinya berkata, “anak-anak ini kasihan, mereka penuh semangat menyanyikan lagu dalam iklan itu, tetapi mereka belum pernah merasakan seperti apa rasa susu itu”. “…susu saya susu bendera…” bukanlah susu yang pernah mereka cicipi.

Atas dasar peristiwa itu, dan untuk menebus rasa kasihan pada anak-anak di Waghete, dibuatlah program penambahan gizi di TK Komugai. Paling tidak, setiap hari Selasa dan Kamis, anak-anak TK Komugai memperoleh tambahan makanan di sekolah. Dengan dana yang ada dan bantuan dari kemurahan hati para donatur, dibelilah susu dan biskuit untuk anak-anak. Dengan penuh semangat, anak-anak TK pun menikmati sajian tambahan gizi alakadarnya yang disediakan oleh sekolah. Dengan demikian, anak-anak pun tidak lagi hanya menyanyikan secara hampa penggalan lagu dalam iklan susu bendera. Paling tidak, sekarang mereka pernah merasakan bagaimana rasa sesungguhnya “susu saya susu bendera” itu. Ketika persediaan susu sedang menipis, pihak sekolah kadang juga menyediakan tambahan gizi dalam bentuk yang lain seperti bubur kacang hijau atau bubur beras merah.

Televisi dan susu bendera adalah sepenggal kisah yang memberi warna baru bagi kehidupan masyarakat dan anak-anak di Waghete. Hal-hal baru tersebut seolah-olah datang begitu saja tanpa pernah mereka undang. Ada suasana gagap di tengah-tengah masyarakat di Waghete menghadapi semua itu. Mengapa kotak plastik yang berkaca dan disebut TV itu bisa mengeluarkan bunyi dan gambar? Bagaimana susu bendera itu bisa berada di dalam kaleng dan bisa diminum? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang seharusnya mereka temukan jawabannya. Namun, tampaknya tidak ada yang menjelaskan bagi mereka. TK Komugai dengan sarananya yang ada mencoba sedikit demi sedikit menanggapi kegagapan masyarakat di Waghete. Paling tidak, anak-anak TK mendapat pemahaman bahwa dengan minum susu, mereka menjadi lebih sehat. Semoga nantinya banyak hal lain yang mereka lihat dalam TV dapat mereka nikmati atau bahkan mereka ciptakan sendiri.

 

“NENG NENG NENG”

Image

Anak-anak TK bersiap-siap masuk ke dalam kelas sambil menyanyikan lagu Neng, neng, neng.

                                             “NENG NENG NENG”

Semua anak-anak TK Komugai sudah siap berada di depan kelas. Anak-anak TK kelas A berbaris di depan kelas A dan anak-anak TK kelas B berada di depan kelas mereka pula. Semua anak-anak sudah membersihkan kaki, tangan dan wajah mereka. Ingus di bawah hidung mereka pun sudah bersih dan mereka sudah berbaris dalam posisi siap. Hanya satu hal yang kurang, yaitu menyanyikan lagu kecintaan anak-anak untuk mengiringi masuk ke dalam kelas.

“Neng neng neng, neng neng neng, dengarlah lonceng itu. Neng neng neng, neng neng neng, itulah tanda waktu. Marilah kawan bentuk barisan di muka pintu. Masuk ruangan berlahan-lahan bersama bu guru…”

Itulah lagu yang paling disukai anak-anak sebelum mereka masuk ke dalam kelas. Dengan suara keras anak-anak menyanyikan lagu di atas. Dengan mudah mereka sudah menghafalkan lagu singkat itu. Paling tidak, dua kali lagu tersebut dinyanyikan. Sambil memberi contoh, ibu guru pun mengajak anak-anak untuk bernyanyi sambil berjalan di tempat. Anak-anak pun mulai mengikuti ibu guru, bernyanyi sambil menghentak-hentakkan kaki mereka. Hentakan kaki anak-anak tidak terdengar terlalu keras sebab sebagian besar anak-anak tidak mengenakan alas kaki. Namun, suara merekalah yang terdengar keras dan menjadikan suasana begitu bersemangat. Dengan agak berebutan, anak-anak pun masuk ke dalam kelas. Ibu guru biasanya akan memperingatkan anak-anak agar masuk ke dalam kelas secara teratur dan tidak berdesak-desakan.

Anak-anak boleh memilih tempat duduk di mana pun mereka berminat. Saling bertukar tempat duduk rupanya menjadi kegembiraan tersendiri bagi anak-anak. Mereka bisa mengenal bukan hanya satu atau dua teman di dekat meja mereka, namun pengenalan terhadap teman-teman satu kelas menjadi lebih cepat. “Baik, semuanya duduk dengan baik”, ibu guru berseru untuk mengajak anak-anak memulai pelajaran. Tetapi, sebelumnya anak-anak diajak untuk berdoa. Doa dilakukan secara Katolik. Hampir seluruh anak didik di TK ini beragama Katolik, namun ada juga juga beberapa anak yang beragama Kristen.

Doa pagi yang diucapkan bersama-sama oleh ibu guru dan anak-anak adalah doa bapa kami. Sebagian anak-anak berdoa dengan khusuk dengan menutup mata mereka. Namun, ada juga beberapa anak yang selalu berdoa sambil melirik teman-teman mereka. Ada juga yang hanya dengan menutup mata mereka sebelah saja. Setelah doa bapa kami usai didaraskan oleh anak-anak, kini tiba saatnya untuk memberi salam pada ibu guru dan teman-teman. Maka, anak-anak TK Komugai dengan pekikan suaranya yang keras berseru,” selamat pagi ibu guru, selamat pagi teman-teman”. Pada saat saya yang mengajar, anak-anak akan memberi salam yang berbeda, “selamat pagi bludel (bruder), selamat pagi teman-teman”. Kadang pula, mereka akan menyerukan “selamat pagi bapak guru”. Mendengarkan suara mereka, sama artinya dengan merasakan semangat mereka yang begitu kuat untuk belajar.

Setelah doa pagi dan salam kepada guru pendamping dan teman-temannya disampaikan, anak-anak TK mulai pun mulai belajar dengan guru pendamping. Anak-anak diajak bernyanyi, melafalkan abjad, melafalkan huruf, mewarnai, menggambar, bermain dan lain sebagainya. Dalam hal ini, guru pendamping harus selalu kreatif menentukan dan mengarahkan anak-anak untuk belajar sesuai dengan minat mereka. Dalam prakteknya hal ini tidak mudah. Para guru pendamping perlu memahami bahwa anak-anak usia TK mempunyai dunia mereka sendiri. Untuk memahami mereka, para guru sebisa mungkin perlu mengenal atau bahkan masuk ke dunia anak-anak itu. 

Kendati tidak mudah mendampingi dan mengajar anak-anak, kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para guru pendamping bukanlah alasan untuk menyerah. Jika pada hari tertentu para guru merasa “gagal”—walaupun sebenarnya tidak ada kata gagal dalam mendidik anak-anak, lebih tepatnya ini adalah bagian dari proses—para guru bisa mengulanginya pada hari dan kesempatan berikutnya. Semangat anak-anak yang tidak pernah padam bisa menjadi pemacu bagi para guru untuk terus mendampingi mereka. Kobaran semangat mereka, seperti ketika mereka menyanyikan “neng neng neng…” sebelum memulai belajar di muka kelas dengan gegap gempita,  tentunya bisa dijadikan obor semangat oleh para guru dalam mendampingi dan mengarahkan anak-anak menjadi lebih baik. Semoga!

 

MENGHAPUS INGUS

 Image

                    Wajah kami sudah bersih…tidak ada ingus lagi..

 

MENGHAPUS INGUS

Rasanya agak aneh ketika harus menyebutkan bahwa membersihkan ingus adalah bagian dari pendidikan. Namun, itulah yang terjadi di TK Komugai. Umumnya, anak-anak usia TK di Waghete selalu diserang   semacam “wabah” flu. Tak aya lagi, kebanyakan hidung anak-anak pun beringus. Ingus mereka mengalir hampir tiada henti. Hal ini tentu menjadi keprihantinan tersendiri bagi TK Komugai.

Ketika ditelusuri ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penyebab anak-anak selalu beringus. Pertama, anak-anak  terkadang kurang begitu bisa memperhatikan kebersihan diri. Sebenarnya, di sini peran orang tua  sangat penting.  Kedua, anak-anak sendiri seringkali bermain di tempat-tempat yang kotor, entah itu di selokan, jalan-jalan yang berlumpur, di kebun  atau pun di di hutan. Bahkan, kadang bukan hanya flu yang menyerang mereka, tetapi juga koreng dan kudis. Mungkin, flu berkepanjangan yang dialami oleh anak-anak ini juga terjadi karena cuaca dingin yang selalu menyelimuti desa Waghete. Faktor lain yang kiranya juga perlu disebut adalah daya tahan atau kekebalan fisik anak. Hal ini tentu terkait dengan asupan gizi yang mereka peroleh sangat kurang. Sehingga tubuh mereka menjadi rentan.

Maka dari itu, penerapan bidang kebersihan dan kesehatan pun kiranya perlu disampaikan pada anak-anak TK sebelum mereka memasuki kelas untuk belajar dan bermain. Di depan kelas, ketika anak-anak masih berbaris setelah membersikan kaki, tangan dan wajah mereka di pancuran dari drum-drum besi yang berkran, ibu guru akan bertanya “siapa yang masih beringus?”. Anak-anak pun biasanya secara beramai-rama akan menjawab “saya sudah tidak ada ibu guru”, sambil menyedot ingus mereka ke atas. Sejenak ingus memang menghilang, namun tak lama kemudian akan turun lagi dengan membentuk tanda sebelas. Ibu guru pun akan kembali berseru “ayo, dibersihkan dulu ingusnya baru kita masuk kelas”, teriak ibu guru berulang-ulang hingga ingus anak-anak cukup bersih.

Di TK Komugai, kebersihan dan kesehatan menjadi bagian yang cukup penting guna menunjang pendidikan dini bagi anak-anak Waghete. Anak-anak sendiri pun akan merasa lebih tenang ketika mereka harus belajar di dalam kelas. Pengenalan dini tentang kebersihan dan kesehatan ini pun dengan sendirinya juga mendukung pertumbuhan anak-anak agar menjadi maksimal. Untuk mendukung salah satu usaha ini, ada salah satu sarana yang digunakan untuk membantu anak-anak mengingat akan kebersihan diri mereka, yaitu cermin di depan pintu masuk kelas. Dengan melihat cermin, anak-anak pun akan melihat dengan jelas cerminan dirinya. Dengan cermin, anak-anak secara langsung dapat melihat apakah diri mereka sudah bersih ataukah belum. Mereka juga dapat memastikan apakah ingus di bawah hidung mereka masih ada atau kah tidak.

Tampaknya, kisah ini adalah kisah yang begitu sederhana dan mungkin di tidak terjadi di tempat lain. Namun, justru bermula dari hal-hal yang sederhana inilah anak-anak TK Komugai dididik. Lagi pula, sebagian besar anak-anak TK Komugai sendiri adalah anak-anak yang sangat sederhana dan berasal dari keluarga-keluarga yang begitu sederhana pula. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dari keluarga petani yang kadang luput untuk memperhatikan kebersihan dan kesehatan anak-anak mereka.  Oleh karena itu, TK Komugai merasa perlu untuk mengajarkan tentang kebersihan dan kesehatan.

TK KOMUGAI

Image

Wajah TK Komugai tempo dulu

Pendidikan taman kanak-kanak di waghete

TK KOMUGAI

Sejak tahun 2003 Taman Kanak-kanak (TK) Komugai[1] dilahirkan. Ibu kandung TK Komugai adalah kegelisahan. Kegelisahan yang dimaksud adalah bidang pendidikan dasar di Waghete. Rasanya, pendidikan dasar yang dimulai dari Sekolah Dasar (SD) belumlah bisa sepenuhnya menjawab “kebutaan terhadap huruf dan angka” bagi anak-anak di Waghete. Oleh karena itu, perlu diusahakan langkah yang lebih awal untuk mengurangi kecemasan sang ibu kegelisahan, yaitu pendidikan usia dini. Atas dasar itu, pendidikan TK pun mulai di gagas dan sejak tahun 2003 pun TK Komugai berdiri. Pada saat awal dibukanya, ada 41 anak yang mendaftar. Ini adalah jumlah murid yang cukup besar.

Di TK Komugai inilah anak-anak suku Mee di desa Waghete memulai mengenyam pendidikan dini mereka. Sebelum mereka belajar, lebih dulu anak-anak diperkenalkan dengan pengetahuan tentang kebersihan.  Sebelum masuk kelas, anak-anak harus lebih dulu mencuci kaki mereka hingga bersih. Membersihkan kaki bukanlah hal yang mengherankan di desa Waghete mengingat jalanan-jalan yang ada kebanyakan masih berlumpur dan licin. Pada umumnya, anak-anak pun tidak mengenakan alas kaki. Dengan bertelanjang kaki, mereka bisa berjalan dengan lebih cepat dan lebih matap. Jari-jari kaki mereka bisa mencengkram tanah yang licin dan berlumpur di jalanan.  Membersihkan kaki yang berlumpur pun terasa lebih mudah dibandingkan harus membersihkan sepatu atau sandal, seandainya pun mereka punya.

Persis di samping kelas terdapat beberapa drum besi yang berjejer untuk menampung air hujan. Dengan memberi lubang dan memasang kran pada drum-drum besi itu, mencuci kaki pun menjadi lebih mudah bagi anak-anak. Kesempatan mencuci kaki ini rupanya dimanfaatkan pula oleh anak-anak untuk mencuci tangan dan muka mereka. Pada saat yang sama, ibu guru pun tak henti-hentinya memberikan aba-aba atau nasehat agar anak-anak lebih teliti saat mencuci kaki, tangan dan wajah mereka.

Beberapa anak biasanya ragu-ragu untuk mencuci kaki dan wajah mereka. Hal ini bisa dimengerti, sebab suhu air memang cukup dingin. Lagi pula, mencuci kaki dan wajah bagi anak-anak ini belumlah menjadi kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari. Di rumah mereka tidaklah tersedia drum-drum dengan lubang-lubang kran seperti di sekolah mereka. Seusai mencuci kaki, tangan dan wajah mereka, anak-anak pun langsung bersiap untuk berbaris. Biasanya, beberapa anak lupa untuk menutup kembali kran air di drum besi itu. Ibu guru pun tak bosan-bosannya terus mengingatkan anak-anak agar mematikan air di kran setelah digunakan, kendati berulang-ulang.

Setelah membersihkan diri, anak-anak pun siap berbaris di halaman kelas. Biasanya beberapa anak yang terlambat datang langsung ikut bergabung dalam barisan. Maklum, di rumah mereka kebanyakan belum tersedia jam. Terang matahari dan udara dingin yang mulai terurai biasanya menjadi penanda bagi mereka bahwa hari sudah fajar dan anak-anak TK harus berangkat ke sekolah. Beberapa orang tua murid TK biasanya ikut mengantar anak-anaknya untuk pergi ke sekolah. Setelah tiga  atau empat kali diantar oleh orang tuannya, anak-anak  TK Komugai pun sudah mulai berani berangkat sendiri ke sekolah, meskipun rumah mereka cukup jauh.

“Siap grak” ibu guru pun memberi aba-aba pada anak-anak untuk berbaris. Ibu guru pun biasanya langsung turun tangan mengatur barisan. Setelah agak rapi, aba-aba berikutnya diberikan oleh bu guru “lencang kanan grak”. Biasanya, barisan yang sebelumnya sudah agak rapi menjadi acak-acakan lagi setelah diberi aba-aba lencang kanan. Setelah dianggap cukup rapi, pasukan anak-anak TK Komugai pun diistirahatkan.

“Sekarang anak-anak ada di mana?” teriak ibu guru. “Di halaman kelas”, teriak keras anak-anak secara bersama-sama. “Anak-anak mau ke mana?,” ibu guru kembali bertanya. “Masuk ke dalam kelas,” jawab anak-anak tanpa mengurangi volume suaranya.  “Untuk apa?,” ibu guru terus bertanya. “Untuk belajar agar pintar”, anak-anak pun dengan lugas menjawab. Pertanyaan terakhir pun diajukan “siapa mau jadi pintar?” serentak anak-anak pun mengacungkan tangan mereka dan bersaut-sauatan menyerukan “ saya, saya, saya”. “Baik, kalau anak-anak mau pintar, anak-anak harus rajin belajar”, sambut bu guru.


[1]Komugai berarti mengumpulkan atau memanfaatkan suatu hal atau barang-barang yang sudah ada dan menggunakannya dengan baik.

WAGHETE DAN DANAU TIGI

Image

WAGHETE

Salah satu daerah pedalaman yang kiranya bisa menjadi contoh dari karakteristik di atas adalah desa Waghete. Waghete adalah sebuah desa di sebuah pedalaman Papua yang berada di kabupaten Deiyai, Papua. Desa ini terletak sekitar 255 kilo meter ke Selatan dari teluk cendrawasih. Tidak jauh dari desa Waghete terdapat sebuah danau dengan nama Danau Tigi.  Danau ini cukup luas dan dikelilingi oleh pedesaan-pedesaan yang tersebar. Mayoritas penduduk yang tinggal di desa Waghete adalah suku Mee.[1] Suku Mee adalah salah satu suku terbesar yang terdapat di Papua. Paling tidak suku ini tersebar di empat kabupaten di  provinsi Papua, yaitu kabupaten Paniai, Deiyai, Dogiyai dan Nabire. Di Kabupaten Paniai, suku Mee tinggal tersebar namun mengelilingi dua danau indah yang ada yaitu danau Tage dan Danau Paniai. Sementara itu, seperti telah disebutkan di atas, di kabupaten Deiyai, suku Mee tersebar mengelilingi danau Tigi. Di kabupaten Dogiyai, konsentrasi penduduk Mee berada di lembah Kamu-Mapia. Lembah ini sangat subur dan dilalui oleh beberapa sungai dengan air yang jernih. Menurut cerita, di lembah Kamu-Mapia ini juga terdapat danau, namun danau tersebut telah dikeringkan guna keperluan pertanian. Dan, suku Mee yang berada di kabupaten Nabire tersebar tidak beraturan di antara suku-suku lainnya yang juga tinggal di kabupaten yang sama. Tentunya, di daerah-daerah lain di Papua juga terdapat suku Mee yang tinggal dan berbaur di tengah-tengah suku lain.

Sebagai daerah yang berada di pegunungan, dengan ketinggian 1.700-1800 meter di atas permukaan laut, cuaca di sekitar desa Waghete cukup dingin. Pada malam dan pagi hari, suhu di daerah ini bisa mencapai 10 derajat celsius. Sedangkan pada siang hari, umumnya temperatur cuaca naik berada dikisaran 15-20 derajat celcius. Meskipun demikian, cuaca yang dingin ini tidak menjadi penghalang bagi penduduk Mee untuk mengenakan pakaian tradisional mereka, yaitu koteka[2] dan moge[3]. Dipadukan dengan pemandangan yang indah di sekitar danau Tigi, warga Mee yang mengenakan koteka dan moge memberikan panorama khas yang tidak akan terlupakan.

Atas dasar keadaan cuaca yang dingin, penduduk Mee umumnya membangun rumah mereka dengan desain yang cukup tertutup. Hanya ada satu pintu masuk dan keluar untuk rumah-rumah mereka. Hampir di semua rumah tidak terdapat jendela atau celah yang lain. Hal ini tentu disengaja agar tidak ada udara dingin yang bisa menerobos masuk ke dalam rumah mereka. Sementara itu, interior rumah juga cukup sederhana. Di ruang tengah rumah biasanya terdapat tungku api. Tungku api ini paling tidak mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai pemanas ruangan, untuk memasak dan untuk penerangan pada malam hari. Segenap penghuni rumah pun tidur di tempat yang sama pada malam hari, yaitu dengan mengelilingi tungku api.  Selain ruang tengah ini, hampir tidak ada lagi ruangan lain di dalam rumah kecuali beranda kecil di depan pintu utama yang biasanya digunakan untuk meletakkan kayu bakar.

Di dalam tungku api yang sama, penduduk Mee memasak makanan pokok mereka yaitu nota[4] dan keladi. Biasanya mereka memasak dengan dua cara yaitu dengan merebus atau membakarnya secara langsung di atas bara api. Namun, kadang pula mereka memasak beras yang biasanya diperoleh dengan membeli di kios-kios yang di jual oleh masyarakat pendatang.[5] Meskipun begitu, beras tidak bisa menggantikan makanan pokok bagi penduduk Mee di sini, apalagi penduduk Mee tampaknya belum begitu mengenal teknologi bercocok tanam padi di daerah pegunungan. Sebagai makanan penambah gizi, penduduk Mee di Waghete biasanya memanfaatkan adanya Danau Tigi sebagai sumbernya dengan menangkap ikan yang banyak terdapat di danau. Dengan memancing atau menjala, mereka menangkap ikan mas atau mujaer yang terdapat di danau. Bahkan, kadang pula mereka mendapat udang atau lele dari usaha mereka.

Rasanya tidak banyak variasi jenis makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat Mee di pedalaman. Selain beberapa bahan makanan yang telah di sebutkan di atas, masih ada satu lagi makanan khas yang kiranya tidak boleh lupa disebutkan di sini yaitu beraben.[6] Beraben sering juga disebut sebagai bakar batu. Cara memasak makanan ini cukup unik. Setelah semua bahan makanan yang akan dimasak tersedia, batu-batu kali dengan jumlah tertentu akan mulai dibakar. Setelah kurang lebih dua jam, batu-batu yang dibakar pun membara dan memiliki temperatur sangat tinggi. Kemudian, batu-batu yang telah membara itu pun dipindahkan kedalam lubang galian yang tidak terlalu dalam dan selanjutnya bahan makanan berupa sayur-sayuran (daun ubi jalar, daun pinus dan lain sebagainya), daging, nota dan keladi dimasukkan di atas batu yang membara. Di bagian paling atas diletakkan dedaunan hijau untuk menjaga temperatur di dalam tumpukan beraben agar tetap panas. Setelah kurang lebih dua jam. Tumpukan beraben pun siap untuk dibuka dan bahan makanan yang berada di dalam biasanya telah masak. Acara beraben sendiri bukanlah acara rutin yang dilakukan oleh masyarakat Mee setiap hari, melainkan acara ini hanya dilakukan dalam skala pesta. Paling tidak selama satu tahun mereka akan melakukan acara ini dua kali, yaitu pada masa Natal dan pada saat Yuwoo.[7]

Bagi suku Mee masa Natal adalah masa yang cukup penting. Sebab, hampir seluruh penduduk Mee memeluk agama Katolik dan Kristen. Maka, tidak mengherankan bahwa pada masa Natal mereka merayakan kegembiraan hidup beriman mereka dengan mengadakan pesta bakar batu. Acara bakar batu ini biasanya diadakan secara berkelompok mengingat biaya yang diperlukan untuk acara bakar batu ini tidaklah murah. Untuk memotong satu ekor babi—sebagai bahan utama untuk bakar batu—biasanya mereka perlu mengeluarkan uang antara 3 juta-6 juta rupiah. Hanya bagi keluarga-keluarga tertentu yang memiliki cukup uang, mereka bisa melakukan bakar batu secara pribadi.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk dan gegap gempita dunia modern dengan segala macam perkembangan teknologi dan informasinya, Waghete  tetaplah menjadi sebuah desa dengan segala kesederhanaanya. Hingga saat ini arus listrik dan sinyal (sebagai salah satu indikator daerah modern) belum menyentuh desa Waghete. Kendati kedua hal tersebut penting tetapi itu bukalah hal pokok yang perlu dirisaukan. Ada hal lain yang kiranya perlu dirisaukan, yaitu bidang pendidikan bagi anak-anak suku Mee.

Kendati dunia pendidikan telah hadir di tengah-tengah suku Mee sejak 64 tahun yang lalu dan dipelopori oleh para misionaris, bidang ini tetap dirasakan mendesak untuk diperhatikan. Hadirnya dunia pendidikan secara berkesinambungan hingga saat ini tetap diyakini sebagai jalan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) penduduk suku Mee dalam menghadapi tantangan jaman yang semakin kompleks.


[1] Dalam bahasa suku ini, Mee berarti manusia.

[2] Penutup kemaluan bagi laki-laki dari buah labu yang dikeringkan.

[3] Pakain bawah bagi perempuan yang terbuat dari anyaman yang dibuat dari kulit kayu

[4]  Ubi jalar

[5] Masyarakat pendatang yang paling banyak terdapat di sini adalah masyarakat, Toraja, Buton dan Manado, Batak dan Jawa.

[6] Beraben adalah jenis makanan yang dibuat dengan lebih dulu membakar batu sebagai media pemanasnya. Jenis makanan yang biasanya dijadikan bahan beraben adalah sayuran, daging babi (kadang daging kambing, ayam dan sapi juga dimasak demikian) dan tentunya nota serta keladi.

[7] Yuwoo adalah kata lain dari pesta adat. Acara ini kadangkala digelar secara besar-besaran dengan memotong puluhan ekor babi dan dijadikan bahan utama beraben.